Setetes air mata

Bulan Desember diakhir penghujung tahun, saat ini memasuki musim penghujan.. Aku hanya berdiri termenung memandang hujan yang membasahi tanah. ku buka jendela dan ku nikmati 1 cangkir kopi kesukaanku. Bau tanah sedikit demi sedikit mulai tercium sontak meningatkan aku dengan teman sekerjaku Emelyn sewaktu di Aceh. Kupanggil dia Emy. .

Aku dan Emy dari kantor yang berbeda, namun tugas kami sama-sama meliput dan membantu Korban Tsunami yang terjadi di Aceh.

“Hai aku Donny, dari Sumber Media, boleh tau namamu?” Tanyaku memulai percakapan.

“Hai juga aku Emelyn, panggil aku Emy dari Suara Post, kamu akan tinggal berapa lama disini? Emy pun meneruskan percakapan.

“Mungkin 3 bulan. Yah waktu yang cukup lama untuk tinggal di daerah ini. Tapi mungkin akan cukup mengasyikkan jika ada perempuan cantik seperti kamu” Aku pun mulai menggodanya.

“Yah.. Semoga mengasyikkan..” Emy pun pergi meninggalkan aku sendiri.

Akupun mengambil ranselku menuju rumah berpetak yang dibangun diantara reruntuhan puing-puing. Pengap dan remang-remang. Tidak ada Kipas apalagi AC. Aku tinggal bersama dengan orang lain yang berprofesi sama denganku. Emy sendiri tinggal 2 rumah disebelahku bersama dengan temanku Florence. Aku pikir aku tak kan bisa berbicara lagi dengan Emy semenjak pertemuanku yang pertama. tapi ternyata keesokkan harinya aku memberanikan diri untuk mengajak Emy membantu menyeduhkan kopi untuk teman2ku yang lain. Diapun tidak keberatan untuk membantuku.

Sudah 2 minggu aku ditempatkan dibagian pembangunan sarana dan prasarana. Karena rencananya kami akan membuat beberapa rumah sederhana untuk korban yang kehilangan rumah tinggal. Sedang Emy sendiri dia membantu di bagian medis, dengan pengalaman Emy sebagai dokter jaga. Dengan senyum Emy membantu setiap anak-anak yang butuh pengobatan. Sesekali aku melihat Emy menahan tangis melihat anak-anak yang masih kecil terluka. Sifat Emy yang Kolerik membuat dirinya harus bertahan dalam keadaan apapun. Bagi Emy, menangis hanyalah membuat permasalahan tidak selesai.
Hubunganku dengan Emy bisa dikatakan baik, kami sharing beberapa hal, bertukar pikiran dan bertukar nomor HP. Bahkan aku dan Emy beberapa kali jalan ke kota sekedar membeli obat-obatan untuk keesokkan harinya. Dari situlah aku tau Emy suka sekali dengan kegiatan sosial. Program kali ini harusnya temannya yang pergi ke Aceh. Tapi dia bersikeras untuk ikut membantu korban tsunami di Aceh. Dari sinilah aku tau banyak hal mengenai Emy. Seorang wanita yang tangguh di tengah badai hidup.

Saat perjalanan pulang dari Kota kira2 menjelang malam, Hujan mulai turun. Kami mencari tempat untuk berteduh. Tetapi Emy tetap berdiri ditengah jalan.

“Emy, cepat berteduh.. Nanti kamu kehujanan. Cepat” Aku menarik tangan Emy sehingga mengakibatkan Emy terjatuh.

“Tidak. Don, Sudah lama aku menantikan hujan. Aku suka Hujan.. Baunya tanah.. Dinginnya udara.. Aku tidak akan melewatkan hal ini sekalipun” Emy berkata dan membuka kedua tangannya seraya menikmati dinginnya hujan. Sementara itu aku berteduh. Ku biarkan Emy menikmati hujan, saat itu pula Emy jatuh pingsan. Kucoba membangunkan Emy dan kulihat betapa pucatnya bibir mungil itu…

Keesokkan paginya Emy mulai kembali melayani pasien satu persatu, kuhampiri dan Emy hanya tersenyum seraya mengatakan “terima kasih”. Hampir aku tak percaya Emy yang kulihat kemarin malam, pucat pasi, kini mulai tersenyum seakan tidak terjadi apa2. Emy begitu cantik, begitu peduli dengan orang banyak. Kini aku merasa aku mulai jatuh cinta dengan Emy. Namun hati kecilku ragu, apakah Emy sudah mempunyai kekasih. Sabtu, di bulan Desember aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku. 3 bulan sudah aku melewati waktu bersama Emy, sudah saatnya aku berterus terang bahwa aku menyimpan perasaan padanya.
***

Aku berjalan lunglai setelah mengungkapkan perasaanku.. Aku hampir tak percaya Emy menolakku dengan tegas. Suasana peraduanku tampak sumpek. Aku tak betah untuk tinggal lebih lama di Aceh. Bukan karena Emy menolakku tapi… Aku tak bisa berbicara lagi dengan santai dengan Emy. Aceh.. Kota yang luas.. Tampak rusak karena terjangan Tsunami. Sama seperti hatiku yang sudah porak-poranda. Aku memutuskan untuk balik hari Rabu ke Jakarta. Awalnya aku ingin stay lebih lama lantaran ingin bersama dengan Emy. Tapi sekarang tidak ada alasan yang tepat untuk tinggal di Aceh. Tanpa mengucapkan selamat tinggal, aku bertolak dari Aceh menuju Jakarta. Hanya kepedihan yang aku rasakan. Sesampainya di Jakarta aku menghubungi beberapa temanku untuk pergi ke hang out berharap dapat segera melupakan Emy.
***

Hari ini, tepat satu tahun kepulanganku dari Aceh. Aku tidak tau bagaimana kabar Emy.. Aku tidak memberanikan diri untuk menelpon Emy. Seketika itu pula telepon ku berdering.. kulihat siapa yang menelepon.. “Emy Calling”. Aku terperanjat, segera kuangkat.

“Hallo.. Emy apa kabar?” Tanyaku langsung.

Terdengar suara dari ujung sana, bukan suara Emy yang ku kenal. “Bukan, ini Trudy kakaknya Emelyn, Ini benar nomornya Donny?

“Yah benar, ada apa yah?” Aku menjawab.

“Bisa ketemu jam 1 siang di Starbuck kemang?” Jawab Trudy secepatnya.

“Yah, saya segera kesana.” Aku langsung bergegas ganti pakaian dan menyalakan mobil. Jam menunjukkan pukul 12 kurang 10 menit. Perjalananku ke kemang sekitar 35 menit. Sesampainya disana aku langsung order ice chocolate signiture sambil menunggu Trudy, saudara perempuan Emy. Seorang perempuan muda datang menghampiri aku. Aku tak kan salah mengira kalau itu Trudy, karena dia hampir mirip dengan Emy, hanya sedikit lebih gemuk dan berambut pendek. Kami memulai dengan percakapan pendek, sampai akhirnya aku tau perasaan Emy dan sekarang Emy sedang sekarat di rumah sakit.
“Aku mohon demi Emy, kamu datang ke rumah sakit. Emy terkena kanker stadium terakhir, waktunya tidak banyak lagi. Aku tau banyak tentang kamu dari Emy, sejujurnya Emy sayang sama kamu, Don. Hanya Emy sudah tau dia memiliki penyakit yang tak ada obatnya. Dan dia akan merasa bersalah jika dia menerima perasaanmu saat itu.” Trudy berkata sambil menangis. Membuat semua orang di Starbuck kemang menoleh ke arah kami.
Aku diam dan tidak mengerti, padahal dulu Emy orang yang gigih dalam membantu menolong korban tsunami, tapi sekarang kenyataannya dia terbaring lemah menuju ajal terakhirnya. Aku menangis dalam hati, lemah. aku memutuskan untuk pergi sore hari untuk mengunjungi Emy.

Jam 4 aku mengunjungi Emy disalah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Di kamar 407, kulihat Emy terbaring lemah, selang Infus, selang dari tabung oksigen nampak jelas di tangan dan hidung. Trudy menemani Emy.. Tak lama kemudian Emy bangun dari tidurnya..

“Maaf Don, aku.. tidak memberi… kamu kabar. Sorry.” kata Emy terbata2.
“Sssttt.. Kamu istirahat saja. Jangan banyak bicara” Aku tak kuasa melihat Emy begitu rapuh dan bibir mungilnya yang pucat, sama seperti waktu itu aku lihat di Aceh.

“Gak.. Aku.. harus manfaatkan waktu… yang ada.. Don, bawa aku ke taman. Kak.. tolong ambilkan.. kursi rodanya” Emy bersikeras.

Akupun menyeret kursi roda dan memindahkan Emy kedalamnya, kututupi kakinya dengan selimut agar hangat. Botol Infus di pegang di tangan kanan Emy dan tabung Oksigen kecil di samping kursi roda turut serta menemaninya. Dia begitu bahagia, bisa menikmati sore hari nan indah. Ku buka lembaran lama sewaktu kami berada di Aceh. Begitu Indah, begitu pahit, Kini tinggal kenangan. “tik.. tik.. tik..” Air hujan sedikit demi sedikit membasahi badan kami..
“Don, bawa aku ke tengah halaman.. aku mau lihat hujan..” Emy berkata.
“Tidak Emy, Kau sedang sakit, lihatlah dari dalam kamar saja” Kataku sambil mendorong kursi roda untuk balik ke kamar.

“Don.. Please.. aku gak ingin menyesal tidak bisa melihat hujan. Anggap saja ini permintaan terakhirku” Mata Emy berkaca-kaca.

“Kamu tunggu di sini, aku akan menggantikan kamu untuk melihat hujan, Ok?” kataku menyakinkan Emy. Emy mengangguk pelan dan tersenyum.
Aku pun berlari ke tengah halaman, aku berteriak sekencang-kencangnya sambil kubuka kedua tangan dan menengadahkan kepalaku keatas menikmati air hujan turun sama seperti Emy melakukannya di Aceh, Bau tanah.. entah semenjak kapan akupun suka dengan baunya. Aku melihat jelas Emy tertawa kecil. Air Hujan membasahi tubuhku sampai aku melihat sebuah botol Infus dari tangan Emy terjatuh, matanya tertutup dan tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Air mataku turut mengalir kencang membasahi di kedua pipiku. Aku akan selalu menggantikan Emy untuk menikmati hujan. Itu janjiku terakhirku pada Emy.
Advertisements

Thank you for your comments :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s