Selamat tinggal Soni..

Entah berapa lama soni telah menemani keluargaku, sampai saat ini, kebaikannya akan tetap membekas di keluargaku. Baik di saat suka maupun saat duka, soni selalu ada. Aku teringat saat soni datang bergabung didalam keluargaku, padahal umurku baru berusia 4 tahun. Mama, Papa, Ciciku sampai adikku terlihat senang, bahkan kami sekeluarga memandang kagum pada dirinya. soni bahkan memikat hati kami.

Tetapi kenyataan sudah hampir 20 tahun… wajahnya yang dulu menawan, kini sudah mulai menunjukan banyak goresan2 tipis. Senyumnya mulai membeku dan hasrat untuk menemani keluarga kami sudah mulai pudar. Tepat di tanggal 03 November 2007, soni tidak dapat bertahan lagi. Dokter ahli sudah kami panggil, katanya sudah tidak ada harapan lagi. Mama berjalan gontai, menerangkan hal ini kepadaku. Aku sendiri pasrah melihat soni tak berdaya.

Hanya satu yang kusesalkan. Waktu soni sudah menunjukkan tanda2 sekarat, kami tetap memaksa soni untuk menemani kami, khususnya mama dan adikku. kadang soni harus menemani adikku sampai jam 5 pagi. Bermodalkan tidur 1 jam soni harus bekerja keras lagi hingga larut malam. Mama sekarang hanya menyesali perbuatannya. aku sendiri bingung gimana cara biar soni dapat hidup kembali. Dokter Ahli berusaha mencari alat yang dapat menghidupkan soni kembali, tapi kelihatannya mustahil. Aku tetap berdoa supaya Soni dapat hidup kembali.. Supaya….


Aku tidak perlu membeli TV yang baru… TT
Advertisements

Thank you for your comments :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s