Bapa Abraham

Bisa dibayangkan, kalau apa yang kita punya dan kita sayangin.. harus diberikan kepada orang lain?

Di KTB (Kelompok Tumbuh bersama) lalu, Dibahas mengenai Bapa Abraham. Tentu semuanya tau.. Sebagai Bapa seorang Yahudi, ia adalah seorang tokoh yang tidak bisa dilupakan. Kisah ini bukan bercerita tentang kehilangan harta benda, atau sesuatu yang dapat dibeli. Tapi cenderung kearah suatu keinginan yang telah lama dinantikan.

Diusianya yang sudah lanjut, Sara mendapatkan dirinya mengandung anak Abraham, Ishak namanya, yang artinya “ia tertawa”. Bagi Abraham, Ishak menjadi simbol dari segala sesuatu yang telah Tuhan janjikan kepadanya di dalam perjanjian. Sebagai seorang ayah yang sudah lanjut usia, Abraham semakin menyayangi anaknya yang telah lama dinantikannya itu. Namun, Tuhan datang dan memberi perintah kepada ayah yang baik, lembut dan lanjut usia ini untuk mempersembahkan anak laki-lakinya dan satu2nya di atas mezbah. Mungkin, kita berfikir.. Tuhan kejam banget sih.. Sudah dapet anak susah2, eh malah disuruh anaknya di korbankan. Bapak mana yang akan melakukan hal ini? Hehe..

Slowly but sure.. Bapak Abraham gak banyak cang-cing-cong. Keesokan paginya bangunlah Abraham dan memanggil dua orang bujangnya dan Ishak. Abraham juga membelah kayu untuk korban bakarannya itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ketempat yang dikatakan Allah.

Sungguh, Bapa Abraham memiliki iman yang luar biasa. Mungkin saja, pada malam harinya Bapa Abraham tidak bisa tidur. Mungkin saja perasaannya berkecamuk. Tapi tidak ada keraguan yang terlihat dari Bapak Abraham. Tidak ada pesta besar2an atau makan bersama, merayakan kepergian Ishak untuk selama-lamanya. Hanya KETAATAN sederhana terhadap perintah Tuhan yang dijalankan didalam kebisuan. Sungguh kedewasaan yang luar biasa.

Sebuah Iman tanpa resiko sama sekali bukan kehidupan. Beberapa orang hidup dengan sangat hati-hati dan mereka benar-benar menolak untuk mengambil resiko. Tidak demikian dengan Abraham. Imannya telah dewasa dan mencapai suatu titik di mana keyakinannya yang multak di dalam karakter Tuhan memberikan kebebasan kepadanya untuk melepaskan semua kekhawatirannya dan mempertaruhkan semuanya untuk taat. Ishakpun demikian. Ishak tidak berlari atau melawan atau memohon atau mengeluh atau bergulat dengan ayahnya ketika ia diikat untuk diletakkan di atas mezbah. Perhatikan iman dan keberanian Ishak yang luar biasa :
“Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan Mezbah di situ. Disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Kej 22:9

Pada saat hari ini, tempatkanlah hubungan anda dengan anak anda itu di atas mezbah (Mungkin nantinya saya sendiri akan merasakan ^^ ) Aku tau bagaimana sulitnya melakukan tindakan diatas. Even aku pun belum mempunyai anak.. Bagian terkecilpun – misalkan pasangan, belum tentu akan kuserahkan. Apalagi sudah menyangkut darah daging.

Fiuh.. Tapi Tuhan tau apa yang Dia lakukan. Tuhan menghentikan tangan Abraham yang sudah siap menghunus pisau. Sesungguhnya Ia berkata : “Engkau telah lulus ujian, sahabat-Ku yang setia. Engkau telah membuktikan kepada-Ku siapakah yang paling terutama, anak-Ku yang telah lanjut usia. Engakau juga telah membuktikan bahwa imanmu telah mencapai kedewasaan penuh. Kesediaanmu untuk menyerahkan anak tunggalmu telah menunjukan bahwa engkau lebih mengasihi Sang Pemberi, daripada pemberian-Nya”

Inti poin yang aku mau share disini terbagi dalam 2 hal :
1. Jangan memegang terlalu erat.
Bahasa sederhananya adalah mengendorkan. Apapun itu.. Memang susah. Hadapilah, jika kita memegang sesuatu terlalu erat, mungkin yang menjadi masalah adalah diri kita sendiri dan bukan apa yang kita pegang. Ada 4 bidang yang berkaitan erat dengan hidup kita : Harta benda kita, Posisi atau Jabatan kita, Mimpi-mimpi kita dan terakhir Hubungan kita. Harus diakui, itu semua memang bagian dari hidup kita. Banyak hal-hal yang mungkin menurut kita baik adanya. Dan Tuhanlah yang memang memberikan kita kesempatan untuk memilih yang terbaik. Tapi ingat.. rancanganmu bukanlah rancangan-Ku. Akhir2 ini aku belajar untuk melihat rancangannya Tuhan di dalam kehidupanku, susah sekali untuk mengerti kehendak Allah. Sekali lagi di ingatkan, Tuhan hanya ingin kita mengendorkan aspek2 penting kehidupan kita.

2. Melepaskan apa yang menggengam Anda.
Perhatikan Pernyataan diatas, jangan sampai salah baca! “Melepaskan apa yang menggengam Anda” dan bukan “Melepaskan apa yang Anda genggam”. 2 pernyataan yang berbeda artinya. Poin yang ke 2 lebih membiarkan Tuhan yang mengambil alih hidup kita, keluarga kita, pasangan kita, dll. Ini Bagian yang sangat sulit menurut saya dari Poin yang pertama. Melepaskan berbeda dengan memegang. Memegang masih ada rasa kekawatiran Tuhan gak bisa mengambil alih hidup kita, memegang masih ada rasa percaya diri bahwa kita mampu mengatasinya. Tetapi melepaskan adalah PERCAYA dengan iman bahwa Tuhan mampu memberikan jalan keluar bagi kita, Melepaskan adalah turut serta dalam rencana dan rancangan-Nya Tuhan. Dan Lihat.. Permasalahannya bukan pada apa yang kita gengam. Tapi lebih ‘Masalah/kekawatiran’ itu sendiri yang menggengam kita.
Hal apakah yang saat ini sedang anda genggam dengan erat atau yang menggemgam anda? Harta? Pekerjaan anda, jabatan anda, posisi anda? Mimpi-mimpi tentang masa depan? Hubungan dengan pasangan kita? atau apapun itu.. Saat ini Tuhan mungkin sedang bekerja di dalam diri anda untuk melepaskan semuanya itu. Mungkin pertama-tama Ia memberikan sentakan yang lembut untuk memberikan kesempatan kepada anda agar melepaskan jari-jari tangan anda yang menggenggam, dan saya yakin hal itu akan menyakitkan. Tetapi Lepaskanlah dengan sukarela. Buat saya lebih mengerikan jika Tuhan sendiri yang akan membuka paksa genggaman kita. Percayalah bahwa Tuhan yang menyediakan rancangan yang terbaik. Dan bukanlah rancangan kecelakaan.

“Bapa, aku ingin mengenal-Mu, namun hatiku yang pengecut ini takut untuk menyerahkan semua mainannya. Aku tidak bisa berpisah dengan semua itu tanpa melukai batinku, dan aku tidak berusaha menyembunyikan dari-Mu rasa takut untuk berpisah. Aku menjadi gemetar, tetapi aku tetap datang menghampiri-Mu. Tolonglah cabut dari dalam hatiku semua yang telah aku puja selama ini dan yang telah menjadi bagian dari diriku, sehingga Engkau bisa masuk dan berdiam di sana tanpa ada saingan. Dan bertakhalah di dalam hatiku dengan penuh kemuliaan. Dengan demikian hatiku tidak membutuhkan matahari untuk bersinar di dalamnya, karena Engkau akan menjadi terang, dan tidak akan ada malam di sana. Dalam Nama Yesus, Amin.
Advertisements

Thank you for your comments :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s