And I want Lived Happily too.. :)

Dan Pangeran tampan pun segera memakaikan 1 buah sepatu kaca sebelah kanan kepada Cinderella. Aha! Ternyata muat. Ukurannya pas dan sesuai. Sungguh betapa bahagianya Cinderella, muka-nya berseri-seri dan nampak kemerahan.. Seluruh istana bersorak-sorai, Para kodok bernyanyi, burung-burung bersiul, dan para sapi makan rumput. 😛 Tanpa ragu Sang Pangeran Tampan mencium Sang Putri yang sangat cantik.. Cinderella.. AND THEY LIVED HAPPILY EVER AFTER.
***
Ada selalu akhir bahagia untuk cerita seperti Pangeran tampan dan Putri cantik atau bahkan Pangeran buruk rupa dengan Putri yang cantik. Too Bad itu hanya ada karangan Walt Disney.. Hehehe.. Kali ini Concern pembicaraan gua seputar Perkawinan – Pernikahan.

Ups! Berat banget sih bahasa si sapi. Tumben bener nih sapi ngomongin kawin. Jangan-jangan dia udah ada rencana menikah lagi.. *Hmmm*. Enggak. Gua lagi gak mikirin mau kawin. Tapi gua lagi kepikiran kalo gua kawin. Jah  -____-“a

Balik ke Topic.. Siapa sih yang gak pengen hidupnya kaya Cinderella. Eh, Maksudnya bukan ketika Cinderella jadi pembantu yeh. Tapi bagian akhirnya.. HAPPILY EVER AFTER. Girls, Its time to wake up. Cinderella punya film-pun gak dilanjutkan after they married. Tapi bukan hidup mereka perfectly aman tentram tanpa gangguan loh. 😀 Siapa tau abis malem ke 2 setelah mereka menikah mereka berantem gara-gara Cinderella lupa angkat jemuran sehingga jubah kesayangan pangeran kebasahan. Atau mereka berantem gara-gara si Pangeran mencet odol dari tengah2 bukan dari ujung odol. *Watever*

Pernikahan sekarang-sekarang ini, bukan sekedar 2 orang jadi 1 dan tinggal seatap. Atau 2 orang yang berbeda jenis tinggal di PIPM *Pondok Indah Punya Mertua*. Banyak yang gua liat orang-orang berlomba untuk cepat married untuk sekedar status.. “Wah, umur gua udah 30, harus cepet-cepet” “Jangan menikah kelamaan, nanti susah punya anak”, atau juga desakan orang tua Contohnya : gua.. “Kapan giliran elo pi?” *Nge-lap Keringet* gua hanya menjawab polos : Doakan yah Mom, Menikah itu tidak mudah. #Tumben Bijak.

Well.. all I can say “it’s not easy to being married”. Ini bukan karena duit. Walau menikah memang butuh banyak uang. Tapi itu baru tahap permulaan. Ibaratnya kalo maen karet itu baru bagian jari kaki. *Halah*. Tapi after Married-lah yang gua maksudkan.. Banyak hal-hal di dalamnya yang perlu kita pikirkan.. Siapa yang memilih warna tembok, siapa yang memilih perabotan, siapa yang membayar listrik, atau bahkan siapa yang giliran mengambil Koran setiap hari.. Walau kecil dan simple, ini akan menjadi boomerang untuk seorang pasangan kalau tidak dibicarakan diawal. Ini baru bagian dasar. Ada banyak lagi yang perlu dipikiran. Anak. Rumah. Pekerjaan rumah. Dan itu membuat seluruh pikiran dan tenaga terkuras. And Most of all adalah Pasangan kita sendiri.

Kalo menurut dari pandangan gua.. Menikah itu tentang Kita dan Pasangan kita. Ber 2. Dan inilah dari segala faktor yang harus diberesin diawal. Kalo kita dan pasangan kita aja udah gak sinkron di awal, bagaimana ketika kita married nanti. So gua mencuri 3 hal dari ini dari kebo dan menurut gua ini memang bagus. *Untuk penjelasannya, gua menjelaskan pake bahasa sapi*

1. Komunikasi

Komunikasi memang hal yang gak bisa ditawar dalam suatu hubungan. Kita gak mungkin bisa sama-sama mengerti keinginan pasangan kalo kita gak mengkomunikasikan. Gua sendiri-pun belajar mengkomunikasikan apa yang gua suka dan yang gua tidak suka dari pasangan gua. Komunikasi bukan sekedar “Ngomong, ngerocos tanpa henti hingga mulut berbusa” tapi bagaimana kita menyampaikan komunikasi secara benar dan dimengerti. Banyak yang gua liat kebanyakan orang berkomunikasi hanya menyampaikan hal yang kita tidak sukai terhadap pasangan kita. Sehingga apa yang kita lakukan terkadang hanya melukai perasaan orang lain. Dan yang perlu diingat.. komunikasi yang baik selalu 2 arah.. Jadi jangan pernah hanya mau didengar dan tidak mendengar. Inilah sesungguhnya bentuk komunikasi yang baik. Kedua belah pihak sama-sama mengerti apa yang diinginkan dan tidak diinginkan.

2. Toleransi

Ini kata-kata, terakhir kali gua denger pas gua SMP waktu pelajaran PPKN. Inipun dalam bentuk Toleransi antar beragama. *whatever –jangan mencoba-coba menebak umur saya*. Ternyaataaaaaaa.. dalam menjalin hubungan diperlukan toleransi. 😀 Bahasa yang bisa gua sederhanakan tentang tolerasi adalah memberikan “ruang” untuk pasangan kita. –Kalo yang lain punya pendapat sendiri yah sok atuh, gpp-
Gua mengambil contoh.. Misalkan cowo kita demen bola, kita demen karaoke, yah kenapa enggak, daripada memaksa, si cewe harus bete nonton bola dan si cowo harus kesusahan nelen MIC, mendingan sama-sama memberikan “ruang” aka. Toleransi untuk melakukan apa yang disukai. Guys, perlu kalian ketahui, Toleransi ini bukan hanya ketika pacaran saja loh. Ketika Married, ada kalanya kita memerlukan “ruang” untuk enjoy our time. Masing-masing. Tentunya tanpa melalaikan tugas dan tanggung jawab masing-masing sebagai kepala keluarga dan Ibu Rumah tangga atau wanita karir yah..

Kita pun tidak bisa banyak menuntut pasangan kita melakukan apa yang kita suka sedangkan pasangan kita tidak. Ada baiknya kedua-nya sama-sama bertoleransi. Banyak hal sebenernya yang bisa dijadikan contoh sebagai bentuk toleransi.. tapi segitu aja deh. :p

3. Menghormati

Bentuk nyata dari toleransi pastinya menghormati. Tanpa sama-sama saling menghormati, toleransi ini gak bakalan ada. Menghormati juga termasuk menghormati Suami sebagai kepala keluarga, dan sebaliknya. Menghormati segala keputusan yang diambil, bukan bearti ini hanya bersumber kepada 1 orang yang mengambil keputusan. Memang benar, suami sebagai kepala keluarga sebagai pengambil keputusan. Namun balik lagi.. Suami harus juga menghormati keputusan Istri. Jadi kembali lagi.. dikomunikasikan dengan baik dan sama-sama saling menghormati.

Yeah, akhirnya dipenghujung bloggg.. saya suka bagian ini.. *karena udah mau pulang* Pernikahan itu sebenarnya proses mempraktekan kasih. ;] Namun kita tau, ketika kita sudah melewati proses ini kita terus dimampukan untuk terus belajar. Ingat.. pernikahan bukan saat yang tepat untuk mengenal pasangan kita lagi. Tapi saatnya PRAKTEK KASIH. 1 of my leader says.. Lebih baik sendiri daripada menikah dengan orang yang salah.

At the end.. I just want to say.. and I WANT LIVED HAPPILY TOO… -akhir yang anehhh-

Advertisements

Thank you for your comments :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s